Jurnal / 8 Agustus 2026

Apa yang Telah Diajarkan Iman kepada Tuhan tentang Pekerjaan dan Kehidupan

My faith in God has carried me through dark times and shaped my purpose: to use the talents and abilities God has given me to help others. I am not perfect, and faith is…

Oleh John Imah
JurnalJohn ImahTeknologiModeBudayaSPREEAIJurnalJohn ImahTeknologiModeBudayaSPREEAI
Apa yang Telah Saya Pelajari dari Iman kepada Tuhan Mengenai Pekerjaan dan Kehidupan

Iman saya kepada Tuhan bukanlah sesuatu yang sering saya bicarakan. Hal itu sebagian karena iman adalah hal yang sangat pribadi dan karena saya tidak pernah ingin keyakinan saya terasa seperti sesuatu yang sedang saya paksakan kepada orang lain.

Sebagai manusia, kita semua mempercayai sesuatu. Itu bisa berupa Tuhan, diri kita sendiri, keluarga, tujuan hidup, kemajuan, atau sekadar harapan bahwa hari esok bisa lebih baik daripada hari ini. Saya menghormati bahwa keyakinan mengambil bentuk yang berbeda bagi setiap orang. Bagi saya sendiri, saya percaya kepada Tuhan.

Tetapi jika saya ingin berbicara secara jujur tentang apa yang menjadikan saya pria seperti sekarang ini, saya tidak bisa mengabaikan Tuhan dari cerita tersebut.

Ada musim-musim dalam kehidupan profesional dan pribadi saya ketika saya tidak tahu bagaimana segala sesuatunya akan berjalan. Saat-saat ketika versi diri saya yang percaya diri yang dilihat orang-orang sebenarnya sedang membawa pertanyaan, tekanan, dan ketidakpastian di balik layar. Iman tidak selalu menghilangkan beban atau langsung memberi saya jawaban. Iman memberi saya kekuatan untuk terus melangkah sebelum jawaban itu tiba.

Seperti semua orang, saya pernah melewati masa-masa sulit. Saya pernah mengalami periode ketika saya merasa tersesat, kecewa, atau tidak yakin dengan jalan ke depan. Saya tidak sempurna—bahkan tidak mendekati sempurna—dan iman kepada Tuhan tidak pernah menjadi sebuah pertunjukan kesempurnaan bagi saya. Iman telah menjadi tempat saya berpaling ketika saya terpaksa menghadapi betapa manusiawinya diri saya sebenarnya.

Saya percaya kepada Tuhan. Saya percaya doa itu penting. Tetapi saya juga percaya iman menuntut sesuatu dari kita.

Kita tidak bisa berdoa agar sebuah pintu terbuka namun menolak untuk berjalan ke arahnya. Kita tidak bisa meminta perubahan sambil melindungi setiap kebiasaan yang membuat kita tetap berada di tempat kita sekarang. Pada suatu titik, keyakinan harus menjadi tindakan.

Iman Tidak Harus Lantang untuk Menjadi Nyata

Beberapa keyakinan terdalam dalam hidup kita bukanlah keyakinan yang kita umumkan secara terus-menerus. Keyakinan tersebut adalah keyakinan yang secara diam-diam memengaruhi cara kita membuat keputusan, memperlakukan orang lain, menghadapi kekecewaan, dan merespons saat tidak ada seorang pun yang melihat.

Begitulah cara saya memandang iman saya kepada Tuhan. Ini bukan tentang tampil sempurna atau berpura-pura saya selalu memiliki jawaban yang tepat. Saya telah membuat kesalahan, meragukan diri sendiri, dan mengalami saat-saat ketika ketakutan atau kesombongan berbicara lebih lantang daripada kebijaksanaan. Iman memberi saya tempat untuk kembali.

Itu mengingatkan saya bahwa sebuah gelar, sebuah perusahaan, hasil yang sukses, atau pendapat orang lain tidak menentukan harga diri saya. Hal itu memberi saya standar yang lebih besar daripada ambisi dan akuntabilitas yang lebih dalam daripada ego. Meskipun saya tidak selalu menjalaninya dengan sempurna, hal itu tetap menjadi kompas saya.

Doa Bukanlah Pengganti Pekerjaan

Saya telah berdoa untuk peluang, kejelasan, perlindungan, kekuatan, dan arah sambil tetap bekerja ketika tidak ada seorang pun yang melihat—melalui larut malam, pagi buta, percakapan yang sulit, dan masa-masa panjang ketika hasilnya jauh dari pasti.

Bagi saya, doa bukan berarti menunggu secara pasif agar hidup berubah. Doa adalah tempat saya menemukan selaras. Kerja adalah cara saya menghormatinya.

Seringkali, yang mengikuti doa bukanlah jawaban instan, melainkan sebuah tanggung jawab: keputusan lain, keterampilan lain yang harus dikembangkan, kebenaran tidak nyaman lain yang harus dihadapi, atau langkah lain yang membutuhkan keberanian sebelum kepastian.

Hidup jarang berubah melalui satu tindakan yang dramatis. Lebih sering, hidup berubah melalui keputusan berulang yang hampir tidak disadari oleh siapa pun: hadir kembali, menepati janji, bangkit dari kekecewaan, dan menolak membiarkan satu bab yang sulit mendefinisikan seluruh cerita.

Orang-orang mungkin melihat jabatan, perusahaan, atau pencapaian tersebut. Mereka tidak selalu melihat pengorbanan pribadi atau saat-saat di mana menyerah adalah hal yang dapat dimaklumi.

Keimanan kepada Tuhan memberi saya alasan untuk percaya bahwa jalan itu terus berlanjut. Tekad adalah apa yang membuat saya kembali ke jalan itu.

Ujian Bukan Berarti Allah Tidak Hadir

Saya tidak akan berpura-pura bahwa setiap cobaan terasa masuk akal saat saya menjalaninya.

Ada saat-saat ketika saya mempertanyakan waktu, arah, dan apakah saya memiliki cukup kekuatan untuk apa yang ada di hadapan saya. Iman tidak membuat saya kebal terhadap keraguan. Iman memberi saya tempat untuk melabuhkan keraguan itu.

Saya juga tidak meromantisasi kesusahan. Beberapa pengalaman memang menyakitkan. Kehilangan tertentu tidak datang dengan pelajaran rapi yang menyertainya. Jawaban atas doa-doa kita mungkin tidak datang dengan cara atau waktu yang kita bayangkan.

Tetapi ketiadaan jawaban yang instan bukan berarti ketiadaan Tuhan.

Melihat ke belakang, banyak dari masa-masa tersulit dalam hidup saya menumbuhkan kualitas-kualitas yang tidak pernah bisa diajarkan oleh kesuksesan saja: kesabaran, kerendahan hati, ketajaman batin, ketahanan, dan pemahaman yang lebih mendalam tentang apa yang benar-benar penting.

Persidangan tersebut bukanlah akhir dari cerita. Itu adalah bagian dari pembentukan.

Iman, Sains, dan Jiwa Insinyur dalam Diri Saya

Salah satu hal yang membuat saya sulit percaya kepada Tuhan adalah karena saya juga percaya pada sains. Saya seorang insinyur sejati. Para insinyur dilatih untuk memecahkan masalah, menelusuri sebab dan akibat, menguji apa yang dapat diuji, dan terus mencari hingga suatu sistem menjadi masuk akal. Cara berpikir itu telah membentuk seluruh hidup saya. Terkadang, hal itu juga memberi saya cara pandang yang sangat sempit terhadap iman.

Saya menginginkan bukti dan jawaban yang dapat saya jelaskan. Lebih dari apa pun, saya ingin hidup bersikap seperti sebuah masalah dengan masukan yang jelas dan keluaran yang dapat ditebak.

Kehilangan ibu saya membuat pertanyaan-pertanyaan itu semakin sulit. Duka tidak bergerak dalam garis lurus, dan tidak tunduk pada logika. Aku tidak dapat menyelesaikan kehilangan itu atau mencari jalan keluar dari ketiadaan itu. Untuk suatu waktu, rasa sakit itu membuat iman menjadi lebih sulit bagiku.

Yang membawa saya kembali bukanlah meninggalkan ilmu pengetahuan atau akal budi yang diberikan Tuhan kepada saya. Itu adalah kesadaran bahwa saya memiliki pengalaman-pengalaman yang tidak dapat sepenuhnya saya jelaskan—saat-saat ketepatan waktu, perlindungan, kehadiran, dan keterhubungan yang terlalu bermakna untuk sayaabaikan. Pengalaman-pengalaman itu tidak menjawab setiap pertanyaan. Pengalaman-pengalaman itu mengingatkan saya bahwa tidak semua hal yang nyata dapat direduksi menjadi apa yang dapat saya ukur.

Saya masih percaya pada sains. Saya masih percaya pada bukti, rekayasa, dan tanggung jawab untuk menyelesaikan masalah-masalah sulit. Iman tidak meminta saya untuk menolak semua itu. Iman memberi saya kerangka yang lebih luas untuk itu.

Kehidupan harus berawal dari suatu tempat. Bagi saya, ketika saya menelusuri pertanyaan itu sampai ke akarnya, saya tiba pada Tuhan. Saya percaya kehidupan bermula dari Tuhan.

Keberhasilan adalah Penatagunaan

Kerja keras, persiapan, dan disiplin itu penting. Saya tahu berapa banyak usaha yang telah saya curahkan untuk membangun hidup dan karier saya. Namun, saya tidak melihat kemampuan, kesempatan, hubungan, atau pengaruh pemberian Tuhan sebagai bukti bahwa saya sukses atas usaha sendiri. Saya melihat semua itu sebagai hal yang dipercayakan kepada saya untuk dikelola.

Itu mengubah arti dari sebuah ambisi. Ambisi itu tidak lagi hanya tentang apa yang dapat saya capai, tetapi apa yang dapat saya bangun secara bertanggung jawab, siapa yang dapat saya bantu, dan bagaimana saya memperlakukan orang-orang di sepanjang jalan. Iman tidak membuat saya menjadi kurang berambisi. Iman membuat ambisi saya lebih disiplin.

Saya yakin sebagian dari tujuan hidup saya adalah membantu orang lain melalui talenta dan kemampuan yang telah Tuhan berikan kepada saya—melalui pekerjaan saya di SPREEAI, membagikan apa yang telah saya pelajari, membukakan sebuah pintu, atau sekadar hadir saat seseorang membutuhkan dukungan.

Kita tidak menerima anugerah hanya untuk diri kita sendiri. Bakat menjadi lebih bermakna ketika ia membantu seseorang melihat kemungkinan atau mengambil langkah berikutnya. Ukuran hidup saya tidak hanya bisa berupa apa yang telah saya capai. Itu juga harus mencakup siapa yang terbantu karena saya pernah berada di sini.

Pekerjaan yang Tak Dilihat Siapa Pun Tetap Penting

Beberapa pekerjaan terpenting yang kita lakukan tidak akan pernah mendapatkan tepuk tangan.

Itu adalah pekerjaan menghadapi kekurangan kita sendiri. Belajar untuk meminta maaf. Memaafkan ketika rasa benci jauh lebih mudah dilakukan. Melindungi orang-orang yang kita cintai. Tetap berdisiplin ketika tidak ada seorang pun yang tahu jika kita mengambil jalan pintas. Terus bertumbuh ketika kesuksesan publik kita dapat dengan mudah meyakinkan kita bahwa pertumbuhan tidak lagi diperlukan.

Keputusan pribadi sering kali membangun pencapaian publik.

Iman saya kepada Tuhan mengingatkan saya bahwa pekerjaan yang tak terlihat tidaklah sia-sia. Saat-saat itu membangun karakter dan kepercayaan. Momen-momen itu juga memperkuat fondasi untuk tanggung jawab yang mungkin belum tiba.

Apa yang terjadi di balik layar pada akhirnya akan terlihat dalam kehidupan yang kita bangun.

Yang Telah Diberikan Keyakinan kepada Tuhan Kepadaku

Iman saya tidak memberi saya kehidupan yang mudah. Sebaliknya, iman itu memberi saya sebuah fondasi.

Landasan itu mengingatkan saya bahwa saya tidak sendirian ketika keadaan terasa berat. Melalui iman, saya telah belajar bahwa ketidakpastian tidak sama dengan kekalahan, bahwa menunggu tidak sama dengan dilupakan, dan bahwa kekuatan terkadang tampak seperti mengambil satu langkah jujur lagi ketika Anda belum dapat melihat seluruh jalannya.

Ini bukanlah perdebatan tentang apa yang harus dipercayai oleh siapa pun. Saya menulis karena setiap kisah hidup yang jujur harus mengakui apa yang saya percayai.

Keyakinan lainnya adalah bahwa Tuhan memberi saya kemampuan apa pun yang saya miliki agar saya dapat menggunakannya untuk melayani orang lain. Usaha saya tidak akan sempurna, tetapi saya ingin karya dan hidup saya meninggalkan lebih banyak kemungkinan bagi orang lain daripada sebelumnya.

Saya percaya kepada Tuhan, dan iman saya telah menopang saya melalui berbagai cobaan dan kesusahan yang seharusnya dapat mengubah saya menjadi lebih buruk. Tanpa Tuhan dan tanpa iman, saya bukan apa-apa.

Namun keyakinan tidak pernah meminta saya untuk tidak melakukan apa-apa.

Ia telah meminta saya untuk bekerja, melayani, bertahan, berkembang, dan terus melangkah. Ia telah mengajari saya untuk menyambut doa dengan tindakan, kasih karunia dengan usaha, dan keyakinan dengan tekad untuk terus melanjutkan.

Begitulah cara saya melewatinya sebelumnya.

Begitulah cara saya berniat untuk terus melangkah.

Baca Berikutnya

Game-Game yang Mengajari Saya Cara Membangun